CEGAH NARKOBA & HIV/AIDS

PREVENTING DRUGS ABUSE & HIV/AIDS
By : LKPI Foundation

Selamatkan 45 juta Anak Bangsa Dari Penyalahgunaan NARKOBA dan HIV/AIDS

S
ebuah bangsa akan hancur, jika generasi mudanya rusak. Generasi muda akan rusak, jika kita tidak mampu melakukan pengasuhan dan bimbingan dalam aspek spritual, nilai dan prilaku keagamaan yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu kita berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan menyelamatkan mereka dari hal-hal yang buruk antara lain dari bahaya penyalahgunaan narkoba.


Sejak dini generasi muda harus diberi pengetahuan tentang bahaya narkoba, sehingga mereka memiliki kemampuan menolak apabila diajak atau ditawari narkoba.

Negeri kita Indonesia pada saat ini memiliki tidak kurang dari 45 juta anak bangsa yang duduk di bangku pendidikan mulai Sekolah Dasar, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Kelak
negeri ini akan berada di tangan mereka. SAVE YOUTH sebelum terlambat.
Showing posts with label Ancaman Narkoba. Show all posts
Showing posts with label Ancaman Narkoba. Show all posts

Saturday

Berita Narkoba


Berita Terkait: Narkoba


Narkoba dan Selingkuh

By : Veronica Colondam
CEO YCAB


Menurut para ahli, jika dilihat dari kajian biologi ada kemiripan aktivitas otak pada saat seseorang mengalami high akibat jatuh cinta maupun karena menggunakan zat (narkoba) tertentu. Hal ini tentu cukup mengagetkan, bukan?

Penulis buku The Female Brain, Dr. Louann Brizendine yang juga seorang neuropsychologist lulusan dari serentetan institusi pendidikan bergengsi University of California Berkeley, Yale, dan Harvard, mengatakan bahwa pada kedua kondisi ini proses kimia pada saraf otak dan hormon aktif yang bermain pada kedua peristiwa ini sama, yaitu: dopamine, oxytocin, estrogen dan testosteron. Dopamine adalah hormon yang dikeluarkan otak dan membawa sensasi rasa menyenangkan tertentu di saat mendapatkan stimuli cinta atau narkoba. Intensitasnya mungkin berbeda, tapi rangsangan sensasi tersebut membawa efek high yang sama. Ini terjadi karena rangkaian saraf otak yang diaktivasi pada saat jatuh cinta itu sama dengan perasaan pecandu ketika 'nagih'.

Ketika seseorang jatuh cinta atau ketagihan narkoba, bagian otak yang berperan sebagai pusat pengendali bahaya - fear alert system - amygdala, pusat berpikir kritis dan pengambil keputusan - anterior cingulated cortex seakan 'dinonaktifkan' ketika proses kimia otak dibanjiri oleh dopamine dan oxytocin.

Hal ini pulalah yang menurut Dr. Brizendine dapat menjelaskan mengapa relaps atau kembali nyandu cinta atau narkoba. Hal ini terjadi terus-menerus sebagai akibat adanya ketidaksinkronan antara kesadaran/keinginan (untuk berubah) dengan perbuatan yang terus mengulang halhal dengan tidak terkendali dan tidak logis.

Dari segi perilaku, sekilas tampak pula beberapa kesamaan antara perilaku kecanduan narkoba dan perselingkuhan. Coba-coba, memenuhi rasa ingin tahu dan ingin membuktikan sesuatu, sama-sama menjadi alasan dalam kedua perilaku ini. Para pecandu awalnya ingin tahu seperti apa narkoba itu, sementara para pelaku selingkuh juga ada yang ingin tahu rasanya berselingkuh. Seperti apa rasanya berdebar-debar karena selingkuh dan sebagainya.

Motivasi untuk berselingkuh maupun mencoba narkoba banyak juga kemiripannya. Misalnya mereka sama-sama meyakini bahwa narkoba dan selingkuh sama-sama dianggap bisa mengatasi masalah, membuat suasana pertemuan sosial lebih menyenangkan, dan dapat mengurangi emosi negatif.

Adanya peningkatan karier juga menggambarkan kemiripan di antara dua hal ini. Mereka tidak pernah tahu bahwa sudah berjalan jauh dan tahu-tahu sudah berada dalam situasi yang pada awalnya tidak mereka inginkan. Toleransi tubuh yang meningkat pada pengguna narkoba dan kebutaan nurani pelaku selingkuh yang makin lama semakin parah membuat “karier” di bidang ini cepat menanjak.

Dalam tulisan saya yang lalu, ciri-ciri pengguna narkoba dikenal istilah tiga 'ong' yaitu: bengong, bohong, dan nyolong. Dalam perselingkuhan, perilaku bengong juga kerap muncul. Pandangan menerawang memikirkan selingkuhannya atau perasaan sakau (nagih) pun timbul karena sudah berhari-hari tidak ketemu. Dalam narkoba disebut “relapse”, dan buat yang jatuh cinta itu namanya kangen.

Mereka juga sering bohong. Pulang malam dengan alasan pekerjaan mengharuskan lembur, padahal kerja 'ekstra' di tempat lain. Mengatakan kepada pasangan bahwa yang baru telepon adalah teman kantor padahal 'teman tapi mesra'-nya.

Mereka juga mulai suka nyolong. Yang dicolong adalah waktu bersama istri dan keluarganya, atau mungkin waktu kantor, ataupun waktu beribadah. Ada juga yang nyolong jatah uang rumah tangga, nyolong pulsa, dsb.

Salah satu faktor risiko dalam penyalahgunaan narkoba adalah suasana rumah yang kurang memiliki relasi yang hangat. Risiko yang sama juga dialami oleh calon-calon pelaku selingkuh. Rumah tangga yang tidak hangat, terlalu rutin dan monoton bisa jadi berkontribusi terhadap perilaku berselingkuh.

Faktor pencegah utama dalam penyalahgunaan narkoba adalah perasaan takut berdosa. Setidaknya ini yang disampaikan sebagian besar remaja yang diriset. Sementara itu banyak orang yakin bahwa benteng terakhir dari perselingkuhan adalah pegangan moral setiap orang. Proses kembalinya pelaku selingkuh maupun pecandu ke dalam habitat awalnya juga bukan hal yang mudah. Penolakan, tidak adanya kepercayaan merupakan konsekuensi logis yang akan muncul dalam situasi itu. Penerimaan keberadaan mantan pecandu dan mantan pelaku selingkuh juga bukan sebuah proses yang pendek.

Dari gambaran ini tampak ada beberapa kesamaan antara narkoba dan selingkuh. Jika mau ditarik sebuah benang merah yang kasar sekali, bisa dikatakan bahwa selingkuh dan narkoba pada hakikatnya adalah sama-sama sebuah penyimpangan dari kewajaran. Paenyalahgunaan narkoba adalah penyimpangan terhadap indahnya kehidupan ini. Sementara itu perselingkuhan adalah penyimpangan dari lantangnya komitmen bersama.

Penyimpangan ini sama-sama akan membawa sejumlah konsekuensi, dari yang ringan hingga yang berat. Jika sudah telanjur terjadi, mari ditanggung konsekuensinya. Jika belum, mari dicegah sejak dini.

Ada sedikit rasa ingin tahu, apa pendapat sidang pembaca bila pengguna narkoba adalah sekaligus juga pelaku selingkuh?

Sumber : Kick Andy

www.kickandy.com






Wednesday

Sasaran Sosialisasi Bahaya Narkoba



Mereka anak-anak kita









Galeri foto anak bangsa kita
Mereka harus dilindungi dan diselamatkan dari ancaman bahaya narkoba. Kelak negeri ini ada di tangan mereka

Lembaga Kerjasama Peduli Indonesia ( LKPI ) sangat peduli dengan keselamatan anak bangsa yang berjumlah tidak kurang dari 45 juta jiwa. Mereka duduk di bangku pendidikan Sekolah Dasar, SMP, SMA(U) Akademi dan Perguruan Tinggi, dan sebagian di Pesantren.

Mereka yang berusia 8-24 tahun sangat rentan terhadap ajakan, pengaruh atau paksaan dari kawan, kelompok dan lingungannya, sehingga mereka sejak dini harus dibekali pengetahuan tentang narkoba dan bahayanya bila disalahgunakan. Mereka harus menerima pengetahuan itu dari berbagai sumber, antara lain dari orang tua / keluarga, sahabat, lingkungan tempat tinggal, sekolah, madrasah, pesantren, kampus, organisasi dan sebagainya.

Kelemahan yang dialami sampai saat ini adalah sangat minimnya materi penyuluhan, sehingga para pihak yang punya kepedulian terhadap bahaya narkoba, kurang memahami materi, pengetahuan ataupun keterampilan yang diperlukan guna memberikan penerangan atau penyuluhan tentang narkoba dan berbagai aspeknya.

Menyadari kelemahan di atas Tim LKPI sejak tahun 2003 telah banyak melakukan observasi dan analisa tentang perlunya sosialisai bahaya narkoba secara nasional, terencana dan berkelanjutan, sehingga untuk jangka panjang hasilnya akan dapat diliha secara bertahap. Usaha ini tidak berarti mengecilkan arti sosialisasi door to door atau individual. Cara ini tetap efektif
untuk jumlah peserta tertentu.

Mengingat demikian meluasnya peredaran narkotika dari mulai tingkat SD sampai Perguruan Tinggi, merata tiap daerah pedesaan dan perkotaan, tersedianya bermacam jenis narkoba dengan harga murah, dan mudah mendapatkannya, menjadi pendorong perlunya sosialisasi masal untuk melindungi dan menyelamatkan anak bangsa yang kelak akan menentukan nasib bangsa di kemudian hari.

Sosialisasi secara nasional dan massal ini tentu saja memerlukan kerja keras dan biaya sangat besar. Kita bukan bangsa penakut sebelum melakukan, bahkan kita bangsa yang kreatif. Yakinlah kita bisa melakukannya asal kemauan kita kuat dan kompak. Ada pepatah yang sudah
dikenal umum : " Ada kemauan, pasti ada jalan. There is a will, there is a way ".